Jumat, 04 Maret 2016

PENGENALAN DASAR MESIN

PENGENALAN DASAR MESIN

Asal mula tenaga motor:
1.  Ada bahan bakar
2.  Ada udara
3.  Ada panas yang tinggi yang bisa membakar campuran udara dan bahan bakar
4.  Pembakaran di ruang tertutup menimbulkan tekanan
5.  Tekanan tersebut dinamakan tenaga.......

Mesin otomotif berdasarkan langkah kerjanya:
- Mesin 2 langkah/2 takt
- Mesin 4 langkah/4 takt

Berdasarkan bahan bakarnya:
- Motor Bensin
- Motor Diesel

Mesin yang menggunakan bahan bakar bensin dinamakan motor bensin.Pada motor bensin,penyaluran bahan bakarnya menggunakan karburator.

Mesin yang menggunakan bahan bakar solar dinamakan motor diesel.Pada motor diesel,penyaluran bahan bakarnya menggunakan bosh pump.

Konstruksi motor diesel pada umumnya mempunyai konstruksi mesin yang lebih kuat dan lebih berat daripada konstruksi motor bensin,karena sistem pembakaran pada motor diesel mempunyai daya yang lebih kuat dibandingkan sistem bahan bakar motor bensin sehingga motor diesel membutuhkan konstruksi yang lebih kuat dibandingkan dengan konstruksi motor bensin.

Pada mesin 2 takt mempunyai 2 langkah kerja,yaitu:

1. langkah ekspansi

2. langkah kompresi

1)Langkah kompresi:Torak/piston bergerak dari TMB ke TMA,saluran masuk bahan bakar terbuka,campuran bahan bakar & udara masuk ke ruang karter& gas yang ada di ruang bakar dimampatkan oleh piston.

2)Langkah ekspansi:Beberapa derajat sebelum TMA busi meloncatkan bunga api listrik & gas yang ada di ruang bakar akan terbakar & timbul tekanan yang tinggi sehingga mendorong piston ke TMB.Saluran masuk tertutup & bahan bakar di dalam karter naik ke ruang bakar melalui saluran pembilasan sekaligus mendorong gas sisa pembakaran keluar dari ruang bakar melalui saluran buang.

Pada mesin 4 takt mempunyai 4 langkah kerja,yaitu:

1.langkah hisap

2.langkah usaha

3.langkah kompresi

4.langkah buang

1) Langkah hisap: katup hisap membuka, torak bergerak dari titik mati atas ke titik mati bawah ,dan menghisap campuran bensin dan udara.

2)Langkah kompresi:torak bergerak dari titik mati bawah ke titik mati atas,pada saat torak akan mencapai titik mati atas,busi meloncatkan bunga api listrik yang membakar campuran bensin dan udara .Kemudian timbul ledakan yang mendorong torak ke TMB.

3)Langkah usaha:torak bergerak dari TMA ke TMB karena terdorong oleh ledakan yang timbul pada saat kompresi,pada saat ini timbul langkah kerja/langkah usaha.

4)Langkah buang:torak bergerak dari TMB ke TMAdan membuang sisa gas hasil pembakaran.pada saat ini katup buang membuka.
Proses tersebut terjadi berulang-ulang dimulai dari langkah hisap sampai langkah buang dan menggerakkan mesin.

INFORMASI PENJELASAN TENTANG RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR MENURUT PARA AHLI

PENJELASAN RANAH KOGNITIF,AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR MENURUT PARA AHLI



INFORMASI  PENJELASAN  TENTANG  RANAH  KOGNITIF,  AFEKTIF,  DAN  PSIKOMOTOR  MENURUT  PARA  AHLI
Menurut  Benyamin  Blood
Taksonomi merupakan ranah kedua dari ketiga tujuan pendidikan tersebut jadi yang di maksud dengan taksonomi ialah yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan sehari- hari yang di maksud pendidikan sehari-hari ialah pendidikan dalam bentuk tingkah laku.
Ada tiga macam tingkah laku yang kita kenal secara umum yaitu
1. Kognitif
2. Afektif
3. Prikomotor

Dari ketiga inilah muncul pengertian taksonomi yang kemudian di rumuskan oleh Benjamin. S Bloom yang kita kenal sekarang dengan sebutan taksonimi bloom. Dalam hal ini Benjamin S. Bloom membagi tujuan pendidikan dalam bentuk tingkah laku menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.


Tujuan pendidikan tingkah laku dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Adapun pembagian dari setiap domain menurut hierarkinya yaitu sebagai berikut :
1. Domain Kognitif
a) Pengetahuan (Knowledge)
b) Aplikasi (Application)
c) Analisis (Analysis)
d) Sintesis (Synthesis)
e) Evaluasi (Evaluation)

2. Domain Afektif
a) Penerimaan (Receiving/Attending)
b) Tanggapan (Responding)
c) Penghargaan (Valuing)
d) Pengorganisasian (Organization)
e) Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)


3. Domain Psikomotor
a) Persepsi (Perception)
b) Kesiapan (Set)
c) Guided Response (Respon Terpimpin)
d) Mekanisme (Mechanism)
e) Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response) Penyesuaian (Adaptation)
f) Penciptaan (Origination)

Awalnya banyak diketahui mula-mula taksonomi Bloom terdiri dari dua bagian yaitu kognitif domain dan afektif domain. Pencipta dari kedua taksonomi ini merasa tidak tertarik pada psikomotor domain karena mereka melihat hanya ada sedikit kegunaanya disekolah menengah atau Universitas (Bloom, 1959). Akhirnya Simpson melengkapi dua domain yang ada dengan psikomotor domain (1966). Namun sebenarynya pemisah antara ketiga domain ini merupakan pemisah yang dibuat-buat, karena manusia merupakan satuan kebulatan yang tidak dapat dipecah-pecah segala tindakannya juga merupakan suatu kebulatan.
Saat ini sudah banyak di ketahui oleh umum bahwa apa yang di kenal sebagai taksonomi blom (1956) sebenarnya merupakan hasil kelompok penilai di universitas yang terdiri dari B. S. Bloom Editor M. D. Engelhart, E, Furst, W.H. Hill, dan D.R Kratwohl yang kemudian di dukung pula oleh Ralp W. Tyler.

Menurut  Anderson
Ranah afektif adalah rana yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Rana afektif mencakup watak prilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. 
Rana afektif menjadi lebih rinci lagi kedalam lima jenjang, yaitu :
1) Receiving atau attending : (menerima atau memeperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada  dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain
2) Responding (menanggapi) mengandung arti "adanya parsitipasi aktif". Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan drinya secara aktif dalam fenomena tertentu dalam membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi dari pada jenjang receiving.
3) Valuing (menilai=menghargai). adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi dri pada receiving atau responding.
4) Organization (=mengatur atau mengorganisasikan), artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga membentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai yang lain.
5) Characterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
Ada tiga komponen sikap :
1)    Kognisi, berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapi.
2)    Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut.
3)    Konasi berkenaan dengan kecendrungan berbuat terhadap objek tersebut
2.    Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif
Pemikiran atau prilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama : prilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua : prilaku harus tipikal prilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, ranah dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari pada yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang dari suka atau senang.
Ada lima karakteristik afektif berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral.
1)    Sikap
Sikap merupakan kecendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal.
2)    Minat
Adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yanh mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktifitas, pamahaman dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan untuk :
a. Mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk mengarahkan dalam pembelajaran,
b. Mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya
c. Memepertimbangkan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik
d. Menggambarkan keadaan langsung dilapangan/kelas
3)    Konsep Diri
Konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:
a.    Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik
b.    Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai
c.    Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya. 
4)    Nilai
Merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan atau prilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.
5)    Moral
Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orng lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri.
Rana afektif lain yang penting adalah :
  • Kejujuran : peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dala berinteraksi dengan orng lain. 
  • Integritas : peserta didik harus meningkatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik. 
  • Adil : peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan 
  • Kebebasan : peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
PENGUKURAN RANAH PSIKOMOTORIK
1.    Pengertian Pengukuran Ranah Psikomotor
Istilah Psychomotor, psikomotor terkait dengan kata motor, sensory-motor, atau perceptual- motor. Ranah psikomotor erat kaitannya dengan kerja otot yang menjadi penggerak tubuh dan bagian-bagiannya, mulai dari gerak yang sederhana seperti gerakan-gerakan dalam shalat sampai dengan gerakan-gerakan yang kompleks seperti gerakan-gerakan dalam praktik manasik ibadah haji. Keterampilan lebih terkait dengan psikomotor. 
 
1.    Ciri-ciri Pengukuran Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melaluli keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain sebagainya.
Penilaian psikomotorik dapat di lakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak di gunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengtukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.
Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah di kuasai oleh peserta didik. Tes tersebut dapat nerupa tes paper andpencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes untuk kerja.
1)    Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang di lakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat di pakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga peserta didik dapat di nilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
2)    Tes untuk kerja (work sample)
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakh peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas di lapangan yang sebenarnya.
Dalam ranah psikomotorik yang di ukur meliputi
(1) gerak reflex,
(2) gerak dasar fundamen,
(3) keterampilan perceptual,
(4) keterampilan fisik,
(5) gerakan terampil,
(6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan .
Menurut  Reigeluth
Reigeluth dan Stein (1983) mengembangkan suatu taksonomi variable pembelajaran yang terdiri dari variable kondisi, metode dan hasil pembelajaran.
Taksonomi variable pembelajaran yang terdiri dari variable kondisi, metode dan hasil pembelajaran menurut Reigeluth dan Stein.
Hubungan antara variable dalam teori pembelajaran preskriptif dapat digambarkan sebagai berikut :
Penjelasan : Peningkatan perolehan belajar ditetapkan sebagai hasil pembelajaran yang diinginkan dan model elaborasi dipilih sebagai metode untuk mengorganisasi isi / materi pelajaran yang akan dipelajari siswa. Dalam hal ini hasil dan kondisi pelajaran ditetapkan terlebih dahulu, baru kemudian memilih metode yang sesuai untuk mencapai hasi pembelajaran yang optimal sesuai dengan yang diinginkan. Agar retensi meningkat, mmaka mulailah pembelajaran dengan menampilkan kerangka isi / materi pelajaran baru kemudian secara bertahap mengelaborasi bagian bagian yang ada dalam kerangka misi tersebut dan secara tetap mengaitkan setiap tahapan elaborasi pada kerangka isi. 2. Bloom (1956) dan Gagne (1983) adalah dua diantara banyak tokoh yang telah berhasil mengembangkan taksonomi tujuan pembelajaran menurut versinya.
Contoh sederhana tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model elaborasi.
a. Penyajian Kerangka Isi. Ø Melakukan apersepsi sebelum masuknpembahasan materi pembelajaran. Ø Menjelaskan materi dan kompetensi dasar yang akan dibahas.
b. Elaborasi tahap pertama. Ø Siswa memperhatikan contoh materi ( contoh teks berita dari media cetak dan dari media elektronik. Ø Siswa membuat rangkuman dengan menyimpulkan teks berita yang dibaca dari yang didengar. Ø Siswa menyimpulkan dan menyusun data pokok berita ( yang diperoleh di kehidupan sekitar ).
Menurut  Meriil
Taksonomi Merril. M. D. Merril sendiri menamakan taksonomi buatannya itu sebagai Componen Display Theory (CDT). Merril (dalam Uno, Sofyan, dan Candiasa, 2001) mengembangkan taksonominya dengan menyempurnakan teori Robert Gagne.
 Taksonomi Merril membagi tujuan-tujuan pendidikan jadi dua kategori:
1.      Isi
2.      Kinerja (teori Gagne). Kategori isi berisikan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur; sedangkan kategori kinerja terdiri dari mengingat, menggunakan, dan menemukan. Namun, Taksonomi Merril ini tak sekomprehensif Taksonomi Bloom sehingga jarang sekali digunakan.

Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Identifikasi Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Taksonomi Bloom (Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor) serta Identifikasi Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Taksonomi Bloom 

1. Ranah Kognitif
Ranah ini meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari, yang berkenaan dengan kemampuan berpikir, kompetensi memperoleh pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi, penentuan dan penalaran. Tujuan pembelajaran dalam ranah kognitif (intelektual) atau yang menurut Bloom merupakan segala aktivitas yang menyangkut otak dibagi menjadi 6 tingkatan sesuai dengan jenjang terendah sampai tertinggi  yang dilambangkan dengan C (Cognitive) (Dalam buku yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives. Handbook 1 : Cognitive Domain yang diterbitkan oleh McKey New York. Benyamin Bloom pada tahun 1956) yaitu:
♦ C1 (Pengetahuan/Knowledge)
Pada jenjang ini menekankan pada kemampuan dalam mengingat kembali materi yang telah dipelajari, seperti pengetahuan tentang istilah, fakta khusus, konvensi, kecenderungan dan urutan, klasifikasi dan kategori, kriteria serta metodologi.  Tingkatan atau jenjang ini merupakan tingkatan terendah namun menjadi prasyarat bagi tingkatan selanjutnya. Di jenjang ini, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan dengan hapalan saja.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : mengutip, menyebutkan, menjelaskan, menggambarkan, membilang, mengidentifikasi, mendaftar, menunjukkan, memberi label, memberi indeks, memasangkan, menamai, menandai, membaca, menyadari, menghafal, meniru, mencatat, mengulang, mereproduksi, meninjau, memilih, menyatakan, mempelajari, mentabulasi, memberi kode, menelusuri, dam menulis.
♦ C2 (Pemahaman/Comprehension)
Pada jenjang ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan dalam memahami materi tertentu yang dipelajari. Kemampuan-kemampuan tersebut yaitu :
  1. Translasi (kemampuan mengubah simbol dari satu bentuk ke bentuk lain)
  2. Interpretasi (kemampuan menjelaskan materi)
  3. Ekstrapolasi (kemampuan memperluas arti).
Di jenjang ini, peserta didik menjawab pertanyaan dengan kata-katanya sendiri dan dengan memberikan contoh baik prinsip maupun konsep.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan, mencirikan, merinci, mengasosiasikan, membandingkan, menghitung, mengkontraskan, mengubah, mempertahankan, menguraikan, menjalin, membedakan, mendiskusikan, menggali, mencontohkan, menerangkan, mengemukakan, mempolakan, memperluas, menyimpulkan, meramalkan, merangkum, dan menjabarkan.
♦ C3 (Penerapan/Application)
Pada jenjang ini, aplikasi diartikan sebagai kemampuan menerapkan informasi pada situasi nyata, dimana peserta didik mampu menerapkan pemahamannya dengan cara menggunakannya secara nyata. Di jenjang ini, peserta didik dituntut untuk dapat menerapkan konsep dan prinsip yang ia miliki pada situasi baru yang belum pernah diberikan sebelumnya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : menugaskan, mengurutkan, menentukan, menerapakan, menyesuaikan, mengkalkulasi, memodifikasi, mengklasifikasi, menghitung, membangun, membiasakan, mencegah, menggunakan, menilai, melatih, menggali, mengemukakan, mengadaptasi, menyelidiki, mengoperasikan, mempersoalkan, mengkonsepkan, melaksanakan, meramalkan, memproduksi, memproses, mengaitkan, menyusun, mensimulasikan, memecahkan, melakukan, dan mentabulasi.
♦ C4 (Analisis/Analysis)
Pada jenjang ini, dapat dikatakan bahwa analisis adalah kemampuan menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas. Kemampuan ini dapat berupa :
  1.  Analisis elemen/unsur (analisis bagian-bagian materi)
  2. Analisis hubungan ( identifikasi hubungan)
  3. Analisis pengorganisasian prinsip/prinsip-prinsip organisasi (identifikasi organisasi)
Di jenjang ini, peserta didik diminta untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi, dan membedakan pendapat dan fakta serta menemukan hubungan sebab akibat.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : menganalisis, mengaudit, memecahkan, menegaskan, mendeteksi, mendiagnosis, menyeleksi, memerinci, menominasikan, mendiagramkan, mengkorelasikan, merasionalkan, menguji, mencerahkan, menjelajah, membagankan, menyimpulkan, menemukan, menelaah, memaksimalkan, memerintahkan, mengedit, mengaitkan, memilih, mengukur, melatih, dan mentransfer.
♦ C5 (Sintesis/Synthesis)
Pada jenjang ini, sintesis dimaknai sebagai kemampuan memproduksi dan mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik. Kemampuan ini dapat berupa memproduksi komunikasi yang unik, rencana atau kegiatan yang utuh, dan seperangkat hubungan abstrak.
Di jenjang ini, peserta didik dituntut menghasilkan hipotesis atau teorinya sendiri dengan memadukan berbagai ilmu dan pengetahuan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : mengabstraksi, mengatur, menganimasi, mengumpulkan, mengkategorikan, mengkode, mengkombinasikan, menyusun, mengarang, membangun, menanggulangi, menghubungkan, menciptakan, mengkreasikan, mengoreksi, merancang, merencanakan, mendikte, meningkatkan, memperjelas, memfasilitasi, membentuk, merumuskan, menggeneralisasi, menggabungkan, memadukan, membatas, mereparasi, menampilkan, menyiapkan, memproduksi, merangkum, dan merekonstruksi.
♦ C6 (Evaluasi/Evaluation)
Pada jenjang ini, evaluasi diartikan sebagai kemampuan menilai manfaat suatu hal untuk tujuan tertentu berdasarkan kriteria yang jelas. Kegiatan ini berkenaan dengan nilai suatu ide, kreasi, cara atau metode. Pada jenjang ini seseorang dipandu untuk mendapatkan pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru serta cara baru yang unik dalam analisis dan sintesis. Menurut Bloom paling tidak ada 2 jenis evaluasi yaitu :
  1. Evaluasi berdasarkan bukti internal
  2. Evaluasi berdasarkan bukti eksternal
Di jenjang ini, peserta didik mengevaluasi informasi termasuk di dalamnya melakukan pembuatan keputusan dan kebijakan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini adalah : membandingkan, menyimpulkan, menilai, mengarahkan, mengkritik, menimbang, memutuskan, memisahkan, memprediksi, memperjelas, menugaskan, menafsirkan, mempertahankan, memerinci, mengukur, merangkum, membuktikan, memvalidasi, mengetes, mendukung, memilih, dan memproyeksikan.
2. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap, nilai, perasaan, emosi serta derajat penerimaan atau penolakan suatu obyek dlam kegiatan belajar mengajar.
Kartwohl & Bloom (Dimyati & Mudjiono, 1994; Syambasri Munaf, 2001) membagi ranah afektif menjadi 5 kategori yaitu :
♦ Receiving/Attending/Penerimaan
Kategori ini merupakan tingkat afektif yang terendah yang meliputi penerimaan masalah, situasi, gejala, nilai dan keyakinan secara pasif.Penerimaan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsanagn atau stimulasi dari luar yang datang pada diri peserta didik. Hal ini dapat dicontohkan dengan sikap peserta didik ketika mendengarkan penjelasan pendidik dengan seksama dimana mereka bersedia menerima nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka danmereka memiliki kemauan untuk menggabungkan diri atau mengidentifikasi diri dengan nilai itu.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, dan meminati.
♦ Responding/Menanggapi
Kategori ini berkenaan dengan jawaban dan kesenangan menanggapi atau merealisasikan sesuatu yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Atau dapat pula dikatakan bahwa menanggapi adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif untuk mengikutsertakan dirinya dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hal ini dapat dicontohkan dengan menyerahkan laporan tugas tepat pada waktunya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : menjawab, membantu, mengajukan, mengompromi, menyenangi, menyambut, mendukung, menyetujui, menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan, memilah, dan menolak.
♦ Valuing/Penilaian
Kategori ini berkenaan dengan memberikan nilai, penghargaan dan kepercayaan terhadap suatu gejala atau stimulus tertentu. Peserta didik tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan akan tetapi berkemampuan pula untuk menilai fenomena itu baik atau buruk. Hal ini dapat dicontohkan dengan bersikap jujur dalam kegiatan belajar mengajar serta bertanggungjawab terhadap segala hal selama proses pembelajaran.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengasumsikan, meyakini, melengkapi, meyakinkan, memperjelas, memprakarsai, mengundang, menggabungkan, mengusulkan, menekankan, dan menyumbang.
♦ Organization/Organisasi/Mengelola
Kategori ini meliputi konseptualisasi nilai-nilai menjadi sistem nilai, serta pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimiliki. Hal ini dapat dicontohkan dengan kemampuan menimbang akibat positif dan negatif dari suatu kemajuan sains terhadap kehidupan manusia.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : menganut, mengubah, menata, mengklasifikasikan, mengombinasi, mempertahankan, membangun, membentuk pendapat, memadukan, mengelola, menegosiasikan, dan merembuk.
♦ Characterization/Karakteristik
Kategori ini berkenaan dengan keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Proses internalisais nilai menempati urutan tertinggi dalam hierarki nilai. Hal ini dicontohkan dengan bersedianya mengubah pendapat jika ada bukti yang tidak mendukung pendapatnya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengubah perilaku, berakhlak mulia, mempengaruhi,  mendengarkan, mengkualifikasi, melayani, menunjukkan, membuktikan dan memecahkan.
3. Ranah Psikomotor
Ranah ini meliputi kompetensi melakukan pekerjaan dengan melibatkan anggota badan serta kompetensi yang berkaitan dengan gerak fisik (motorik) yang terdiri dari gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, ketepatan, keterampilan kompleks, serta ekspresif dan interperatif.
Kategori yang termasuk dalam ranah ini adalah:
♦ Meniru
Kategori meniru ini merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan contoh yang diamatinya walaupun belum dimengerti makna ataupun hakikatnya dari keterampilan itu.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengaktifan, menyesuaikan, menggabungkan, melamar, mengatur, mengumpulkan, menimbang, memperkecil, membangun, mengubah, membersihkan, memposisikan, dan mengonstruksi.
♦ Memanipulasi
Kategori ini merupakan kemampuan dalam melakukan suatu tindakan serta memilih apa yang diperlukan dari apa yang diajarkan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengoreksi, mendemonstrasikan, merancang, memilah, melatih, memperbaiki, mengidentifikasikan, mengisi, menempatkan, membuat, memanipulasi, mereparasi, dan mencampur.
♦ Pengalamiahan
Kategori ini merupakan suatu penampilan tindakan dimana hal yang diajarkan dan dijadikan sebagai contoh telah menjadi suatu kebiasaan dan gerakan-gerakan yang ditampilkan lebih meyakinkan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengalihkan, menggantikan, memutar, mengirim, memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi, mencampur, mengoperasikan, mengemas, dan membungkus.
♦ Artikulasi
Kategori ini merupakan suatu tahap dimana seseorang dapat melakukan suatu keterampilan yang lebih kompleks terutama yang berhubungan dengan gerakan interpretatif.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam kategori ini adalah : mengalihkan, mempertajam, membentuk, memadankan, menggunakan, memulai, menyetir, menjeniskan, menempel, mensketsa, melonggarkan, dan menimbang.

Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Pembangunan di Indonesia memang terus bergulir, akan tetapi sudah seimbangkah dengan pembangunan di bidang pendidikannya? Pembangunan secara fisik memang baik, namun tidak akan berdampak baik jika moral bangsanya terpuruk, karena akan berakibat dihasilkannya lulusan pendidikan yang “pinter keblinger”. Sehingga perlu adanya suatu perbaikan untuk permasalahan ini, cara yang tepat untuk memperbaiki moral bangsa adalah dengan ilmu, dan ilmu didapat dari pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan sangat penting dan perlu dijadikan prioritas dalam pembangunan negeri ini.
Permasalahan pembangunan di bidang pendidikan memang sangat menjadi sorotan, namun upaya dari pemerintah sendiri masih dikatakan sangat minim karena belum juga satu masalah terselesaikan sudah bermunculan lagi masalah yang lainnya.
Kini yang menjadi masalah umum dalam pendidikan yaitu :
  1. Kualitas peserta didik rendah, dapat dikatakan demikian karena kurangnya minat dari peserta didik untuk belajar dan mengenyam bangku sekolah serta malasnya peserta didik untuk pergi bersekolah atau belajar.
  2. Para pengajar kurang profesional, padahal keprofesionalan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pengajar.
  3. Biaya pendidikan yang mahal, sehingga warga masyarakat yang kurang mampu merasa tidak sanggup untuk membayar uang sekolah dan memutuskan untuk memberhentikan anaknya sekolah. Serta minimnya informasi terkait beasiswa bagi peserta didik yang kurang mampu namun berprestasi.
  4. Bahkan UU pendidikan pun terancam kacau, karena dalam implementasinya kurang memberikan hasil yang memuaskan.
Permasalahan pendidikan yang akan lebih ditekankan dalam pembahasan ini adalah mengenai poin nomor 3 diatas yaitu tentang biaya pendidikan yang mahal, belum mencukupinya bantuan dari pemerintah serta tidak meratanya pemberian bantuan tersebut.
Pemerintah sudah berusaha dengan keras mengatasi masalah pendidikan ini. Hal ini sudah terbukti dengan adanya sekolah-sekolah gratis bagi peserta didik yang kurang mampu  yang menandakan bahwa memang pendidikan itu adalah hak semua warga negara tanpa kecuali (baik kaya maupun miskin). Namun, ternyata memang benar untuk mendapatkan pendidikan yang baik itu memerlukan biaya yang memang tidak sedikit sehingga sebagian besar sekolah masih menggalakan adanya pembayaran untuk sekolah.
Permasalahan yang muncul kemudian dan menjadi sorotan masyarakat adalah :
  1. Sekolah gratis memang ada, peserta didik bisa melaksanakan kegiatan belajar tanpa memikirkan biaya, namun sayangnya sekolah-sekolah tersebut berada di daerah terpencil.
  2. Fasilitas di sekolah kurang lengkap atau kurang memadai, hal ini dapat dikarenakan komponen sekolah tidak terlalu paham dengan perkembangan zaman atau dapat pula dikarenakan biaya dari pemerintahnya kurang mencukupi.
  3. Staf pengajarnya kurang berkompetensi, hal ini dikarenakan para pengajar dari kalangan yang ingin mengajar saja, sukarela. Oleh karena sukarela itu, makanya para pegajar lebih memilih sekolah yang dapat memberikan jaminan penghidupan yang lebih dibanding dengan mengajar di sekolah yang jaminan penghidupannya lebih kecil.
  4. Kurikulumnya tidak tepat. Pengajar akan merasa kewalahan dengan kurikulum disebabkan fasilitas dan kemampuannya yang juga terbatas.
  5. Sistem administrasi serta birokrasinya terkesan berbelit-belit. Dikatakan berbelit-belit karena kurangnya pengalaman dalam menjalankan administrasi dan birokrasi pendidikan di sekolah tersebut.
Secara jelasnya permasalahan di atas dapat digambarkan sebagai berikut :
Peta Konsep Permasalahan Pendidikan di Indonesia
Image
Sumber :
(Diakses pada 6 Desember 2013)

Senin, 14 Desember 2015

cerita motivasi ,Hari Aku Menyambut Anakku dan Mengirim Istriku Pergi

 

  7  0 Google +3  0

Kisah Inspiratif Hari Aku Menyambut Anakku dan Mengirim Istriku Pergi

Dylan Benson, seorang warga Kanada, mengungkapkan perasaan sedihnya di sebuah blog pribadi.

Pada akhir Desember tahun lalu Robyn, sang istri, mengalami pendarahan otak ketika masa kehamilannya berusia 22 minggu. Robyn mengalami muntah-muntah dan sakit kepala. Dylan menemukannya sudah tidak sadarkan diri sekembalinya dia dari apotik untuk membelikan istrinya obat.

Dari hasil pemeriksaan dokter, Robyn mengalami pendarahan otak di pusat otaknya yang menyebabkannya mengalami mati otak. Dokter pun mengupayakan untuk mempertahankan hidup Robyn demi menyelamatkan sang jabang bayi. Rencananya setelah usia kehamilannya dianggap cukup memadai, pihak rumah sakit akan melakukan bedah caesar.

“Di satu sisi, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putraku dan berusaha memberikan kehidupan yang terbaik untuknya dan akan mengupayakan sekeras yang kubisa untuk menjadi seorang ayah yang baik untuknya,” ujar pria ini di blognya. “Namun di sisi lain aku menyadari bahwa hari ketika putraku lahir atau keesokan harinya akan menjadi hari di mana aku mengucapkan perpisahan pada Robyn.”
Pada hari Sabtu malam tanggal 8 Februari kemarin, bedah caesar selesai dilakukan, dan alat bantu yang beberapa minggu ini membantu mempertahankan nyawa Robyn, dilepas pada Minggu keesokan harinya.

Ketika sang suami, Dylan, berjuang mengumpulkan dana untuk biaya rumah sakit mereka, Robyn juga mungkin berjuang dalam komanya agar bisa bertahan demi kelangsungan hidup bayinya.


Kata-Kata Bijak:
“Orangtua-lah yang satu-satunya berkewajiban mencintai kita, dan dari seluruh jagad raya, kita juga harus berupaya mendapatkannya.”

- See more at: http://www.termotivasi.com/2014/02/hari-menyambut-anakku-dan-mengirim-istriku-pergi.html#sthash.Ucd8SqtU.dpuf

Kisah Motivasi - Koki Cilik Menghadapi Kanker Dengan Memasak

Kisah Motivasi - Koki Cilik Menghadapi Kanker Dengan Memasak

  28  0 Google +0  0


Kisah Motivasi Menghadapi Penyakit


Bocah 8 tahun dari Brasil yang suka memasak ini bernama Arthur Gonzaga.

Pada bulan Agustus 2013 lalu, Arthur didiagnosa mengidap penyakit leukimia. Dia menghabiskan separuh tahun tersebut dengan keluar masuk rumah sakit dalam proses perawatan dan penyembuhannya.


Kisah Motivasi Menghadapi Penyakit

Selama masa-masa di mana Arthur terpaksa melewatkan waktu di UGD A.C. Camargo Cancer Center di Sao Paulo, Renato Gonzaga dan Priscila Inserra, ayah serta ibu tiri bocah ini, mendapatkan gagasan untuk menciptakan suatu kegiatan yang positif agar si buah hati bisa lebih fokus dan termotivasi dalam menghadapi penyakitnya.

Alhasil, Arthur yang kini tengah dalam proses pemulihan dan berjalan sangat baik tersebut, memiliki acara memasaknya sendiri. Dalam segmen acara yang berjudul 'Arthur Gourmand' dan videonya diunggah di YouTube ini, kita dapat menyaksikan Arthur yang tengah memasak dan membagikan berbagai resep miliknya. Diperlihatkan bagaimana Arthur menjelaskan setiap langkah dari resep-resep makanannya dari proses pembumbuan, persiapan hingga proses memasak.


Kisah Motivasi Menghadapi Penyakit

Sikap positif dari bocah luar biasa ini juga bisa tergambar jelas di sepanjang tayangan video-videonya. Kita menjadi saksi dari sebuah kisah seorang bocah dalam merangkul hasratnya dan menenggelamkan dirinya dalam hal-hal yang dicintainya tatkala kehidupan yang dihadapinya sedang dalam masa pasang yang berat.

Semoga kisah Arthur ini juga bisa membuat kita memetik pelajaran untuk lebih menghargai dan mencoba jadi selaras dengan hasrat yang kita miliki agar kita bisa menjadi lebih aktif untuk berupaya merealisasikannya dalam hidup kita.

Kisah Motivasi Menghadapi Penyakit

Dan seperti yang dikutip dari postingan keluarga Arthur di Facebook, “Rahasia kehidupan adalah untuk membiarkan hidup membawa Anda, untuk bersenang-senang dan tahu bagaimana caranya mengubah lemon menjadi minuman limun.”
- See more at: http://www.termotivasi.com/2014/03/kisah-motivasi-menghadapi-kanker-dengan-memasak.html#sthash.L98xNFTO.dpuf